Teori Behavioristik

 

Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan fisik, keadaan mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar (Syah, 2003). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Belajar merupakan perubahan perilaku dan pengetahuan yang relatif lama dari hasil praktek maupun pengalaman. Ada beberapa poin kunci untuk membahas hal tersebut dikutip dari Kusmintardjo dan Mantja (2011). Pertama, belajar menghasilkan perubahan. Kedua, perubahan dalam pengetahuan atau perilaku terjadi dalam waktu yang relatif permanen atau cukup lama. Ketiga, belajar merupakan hasil dari praktek atau melalui pengalaman melihat orang lain. Dalam proses pembelajaran dapat menggunakan teori belajar apa saja, salah satunya adalah teori behavioristik.

Menurut pendekatan behavioristik, belajar dipahami sebagai proses perubahan tingkah laku teramati yang relatif berlangsung lama sebagai hasil dari pengalaman dengan lingkungan. Terdapat empat prinsip filosofis utama dalam pengembangan teori ini yaitu : (1)Manusia adalah binatang yang sangat berkembang dan manusia belajar dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan binatang lainnya; (2) pendidikan adalah proses perubahan perilaku; (3) peran guru adalah menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif; (4) efisiensi, ekonomi, ketepatan dan obyektivitas merupakan perhatian utama dalam pendidikan. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Dalam proses pembelajaran input ini bisa berupa alat peraga, gambargambar, atau cara-cara tertentu untuk membantu proses belajar (Budiningsih, 2003). Teori belajar Behavioristik memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.

Para tokoh aliran behaviorisme antara lain Thorndike, Skinner, Pavlov, Gagne, dan Bandura. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984). Teori behavioristik cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Degeng, 2006). Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur.

Daftar Pustaka 

1. Degeng, I Nyoman Sudana. 2006. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta: Depdikbud.

2. Gredler, Bell. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali.

3. Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

4. Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

5. Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

6. Kusmintardjo. Mantja, W. 2011. Landasan-Landasan Pendidikan dan Pembelajaran. Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Malang.

7. Asfar, A. M. I. T., Asfar, A. M. I. A., & Halamury, M. F. (2019). Teori Behaviorisme. Makasar: Program Doktoral Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Makassar.

Comments

Popular posts from this blog

Review artikel topik 9&10