Review artikel Topik 5: Sampling (METOPEN KUANTITATIF)

 

Melly Yuni Anjani/ 250321830259/ Tugas review artikel metopen minggu 3/ Topik 5 : sampling penelitian kuantitatif

Reflexive approaches to sampling, survey design and implementation: some practical : examples from rural India

Author: Benjamin Alcott, Suman Bhattacharjea, Ricardo Sabates, Ankita Jha, Maria Khwaja, Preeti Manchanda, Akanksha Pandey, Purnima Ramanujan, Wilima Wadhwa, Poorva Shekher & Pratik Wadmare

Tahun 2025

Doi: https://doi.org/10.1080/1743727X.2024.2432282

Gap:

Masalah yang diangkat:

Praktik kuantitatif biasanya menggunakan prosedur standar (sampling probabilistik, desain kuesioner, skala ukur) yang dikembangkan di Global North. Kemudian, ada kekurangan penelitian yang membahas bagaimana prosedur tersebut perlu diadaptasi ketika digunakan di konteks berbeda (misalnya pedesaan India dengan keragaman bahasa, definisi desa yang tumpang tindih, dan ketidakteraturan data administrasi), serta literature tentang refleksivitas di penelitian kuantitatif masih jarang, terutama terkait instrument design, enumerator positionality, dan field realities.

Metode: kualitatif dengan pendekatan Studi kasus berbasis pengalaman lapangan oleh ASER Centre.

Tujuan:

Artikel ini bertujuan untuk:

Mendokumentasikan tantangan dalam sampling, desain survei, dan prosedur implementasi di konteks pedesaan India, menunjukkan bagaimana refleksivitas digunakan untuk menyesuaikan prosedur kuantitatif standar, dan memberikan prinsip yang dapat membantu peneliti lain untuk meningkatkan validitas data kuantitatif dengan cara menyesuaikan pendekatan dengan konteks lokal.

Hasil: Pendekatan refleksif dalam sampling, desain, dan pelaksanaan survei membuat data lebih valid dan representatif, tetapi menuntut fleksibilitas, waktu, dan sumber daya tambahan.

Sampling:

  • Desain sampel standar (random sampling berdasarkan definisi “desa”) sering kali tidak sesuai dengan realitas lapangan di pedesaan India.
  • Tim penelitian perlu menyesuaikan definisi desa, menggabungkan atau memecah unit administratif agar sesuai dengan konteks lokal.

Desain Kuesioner:

  • Pertanyaan dengan skala Likert atau konsep abstrak sulit dipahami responden → solusi: ubah menjadi pertanyaan biner (ya/tidak) atau gunakan contoh konkret.
  • Bahasa kuesioner perlu disesuaikan dengan dialek lokal, melibatkan enumerator lokal untuk memastikan keterpahaman.

Implementasi Survei:

  • Tantangan etis seperti informed consent, hierarki sosial, dan ketidakpercayaan responden memerlukan pelatihan enumerator dan negosiasi dengan pemimpin desa.
  • Refleksivitas tim peneliti (mempertimbangkan posisi sosial, gender, dan bahasa) meningkatkan kualitas data.

Novelty:

1.   Menghadirkan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa refleksivitas dapat diterapkan pada penelitian kuantitatif, bukan hanya kualitatif.

2.      Memberikan contoh konkret bagaimana prosedur standar disesuaikan:

Mengubah definisi “desa” agar sesuai dengan realitas lapangan, Mengadaptasi skala Likert menjadi pertanyaan ya/tidak untuk meningkatkan keterpahaman responden, Mengelola bias sosial (social desirability bias, power dynamics) dengan prosedur pelatihan enumerator yang lebih refleksif.

3. Mengajak komunitas riset kuantitatif untuk tidak sekadar mengikuti textbook methods, tetapi mempertimbangkan konteks dan posisi peneliti.

Keterbatasan: Artikel lebih bersifat narasi reflektif, tidak mengukur secara kuantitatif sejauh mana adaptasi ini meningkatkan validitas. Tidak ada perbandingan data sebelum dan sesudah adaptasi. Konteks terbatas pada satu negara (India), sehingga generalisasi ke negara lain masih perlu diuji. Tidak membahas dampak biaya dan waktu secara mendalam (padahal adaptasi sering menambah resource yang diperlukan)

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Review artikel topik 9&10