Tindak Lannjut artikel topik 5

 

Melly Yuni Anjani/ 250321830259/ Pembangunan Berkelanjutan untuk Masyarakat/ Tugas tindak lanjut artikel TOPIK 5

Artikel 1 review: The role of innovation in environmental-related technologies and institutional quality to drive environmental sustainability https://doi.org/10.3389/fenvs.2023.1174827

Artikel 2 Review: Critical success factors of green innovation: Technology, organization and environment readiness https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2020.121701

Artikel 3 review: Green technology innovation models, environmental regulation and the willingness of government-university-industry to collaborate on green innovation https://doi.org/10.1016/j.egyr.2024.08.031

Artikel 4 review: Coconut Palm Waste Product Innovation by Using Eco Friendly Technology

Artikel 5 review: Konservasi Energi Berbasis Renewable Energy Technology dengan Pemanfaatan Teknologi Microbial

TINDAK LANJUT

Artikel

Metode

Tujuan

Keterbatasan

Novelty Utama

The role of innovation in environmental-related technologies and institutional quality to drive environmental sustainability

Kuantitatif

 menganalisis peran inovasi teknologi terkait lingkungan dan kualitas institusi dalam mendorong keberlanjutan lingkungan di negara-negara APEC pada periode 2004–2018, serta menilai pengaruh variabel lain seperti keterbukaan perdagangan, konsumsi energi, dan pertumbuhan ekonomi terhadap emisi CO₂bukti.

 

·         Artikel ini menggabungkan peran inovasi teknologi lingkungan dan kualitas institusi secara simultan dalam konteks negara APEC.

·         Menggunakan metode ekonometrika panel terbaru (AMG, CCEMG, Westerlund test, Dumitrescu-Hurlin causality).

·         Memberikan kontribusi pada literatur dengan memperlihatkan hubungan heterogen dan asimetris antarnegara APEC, yang sebelumnya jarang diteliti secara komprehensif

 

Critical success factors of green innovation: Technology, organization and environment readiness

kuantitatif

menganalisis bagaimana kesiapan perusahaan dalam tiga dimensi utama—teknologi, organisasi, dan lingkungan—mempengaruhi keberhasilan green innovation. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji hubungan kesiapan tersebut terhadap kinerja lingkungan, kinerja perusahaan, serta keunggulan kompetitif, sekaligus mengembangkan instrumen pengukuran readiness yang dapat digunakan perusahaan untuk melakukan self-assessment dalam perencanaan dan implementasi green innovation.

keterbatasan generalisasi temuan karena penelitian hanya dilakukan pada perusahaan di China sehingga hasilnya mungkin tidak sepenuhnya berlaku di konteks negara lain dengan kondisi ekonomi, regulasi, dan budaya yang berbeda. Selain itu, data dikumpulkan melalui survei mandiri (self-reported) yang berpotensi menimbulkan bias subjektif dari responden. Penelitian ini juga bersifat cross-sectional sehingga hanya menangkap kondisi pada satu periode waktu dan belum mampu menjelaskan dinamika serta perubahan jangka panjang dalam implementasi inovasi hijau.

Pengembangan model green innovation readiness dengan menggunakan kerangka TOE (Technology–Organization–Environment) untuk menjelaskan faktor-faktor kunci keberhasilan inovasi hijau. Jika penelitian sebelumnya lebih banyak membahas faktor pendorong adopsi teknologi hijau atau readiness pada jenis inovasi lain, artikel ini secara khusus menyoroti kesiapan perusahaan dalam tiga dimensi utama—teknologi, organisasi, dan lingkungan—serta menguji keterkaitannya dengan kinerja lingkungan, kinerja perusahaan, dan keunggulan kompetitif. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi praktis dengan menawarkan instrumen pengukuran readiness yang dapat digunakan perusahaan sebagai alat self-assessment untuk menilai kekuatan dan kelemahan mereka sebelum mengimplementasikan inovasi hijau.

Green technology innovation models, environmental regulation and the willingness of government-university-industry to collaborate on green innovation

pendekatan game theory evolusioner berbasis asumsi finite rationality dan stakeholder theory.

bertujuan untuk menganalisis bagaimana model inovasi teknologi ramah lingkungan (green technology innovation models) dan intensitas regulasi lingkungan memengaruhi kemauan pemerintah, universitas, dan industri (triple helix) dalam berkolaborasi untuk inovasi hijau. Penelitian juga ingin mengetahui kondisi stabilitas kolaborasi melalui pendekatan evolutionary game theory dan simulasi kasus nyata.

Parameter simulasi hanya berdasarkan satu kasus, sehingga generalisasi terbatas.

Tidak membahas dampak negatif dari regulasi lingkungan yang terlalu ketat (misalnya, biaya tinggi bagi industri kecil).

Fokus pada konteks China, sehingga penerapan di negara lain perlu penyesuaian kebijakan dan budaya kolaborasi.

 

Terletak pada upayanya mengintegrasikan model inovasi teknologi hijau, regulasi lingkungan, dan kolaborasi triple helix (pemerintah–universitas–industri) dalam satu kerangka analisis berbasis evolutionary game theory.

Coconut Palm Waste Product Innovation by Using Eco Friendly Technology

Diskusi

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk meningkatkan kapasitas dan mutu

produk kerajinan tangan dari limbah lidi kelapa sawit yang dipadukan

dengan pewarna alami dan teknologi modern seperti ATBM, serta

memperluas pemasaran dan diversifikasi produk agar dapat diterima oleh

pasar dan masyarakat luas

 

Kelompok perempuan Karya Muda mampu memproduksi berbagai produk

kerajinan tenun dari limbah lidi kelapa sawit yang inovatif dan beragam,

dengan dukungan teknologi dan pewarna alami, serta mampu melakukan

diversifikasi produk dan pemasaran yang lebih luas

Konservasi Energi Berbasis Renewable Energy Technology dengan Pemanfaatan Teknologi Microbial

 

Studi Literatur

Mengkaji potensi pemanfaatan teknologi microbial, khususnya Microbial Fuel Cells (MFCs), dalam konservasi energi berbasis teknologi ramah lingkungan yang mampu mengurangi emisi CO₂ dan meningkatkan efisiensi energi. 

·         Penelitian masih dominan bersifat laboratorium/skala kecil, sehingga belum terbukti secara penuh dalam skala industri. 

·         Faktor-faktor lingkungan nyata (limbah cair aktual) dapat memengaruhi kinerja MFC sehingga perlu penelitian lebih lanjut. 

·         Aspek biaya investasi dan operasional jangka panjang belum dianalisis secara rinci.

 

·         Menekankan integrasi konservasi energi dengan microbial fuel cells sebagai inovasi renewable energy technology yang ramah lingkungan. 

·         Memberikan perspektif baru bahwa MFCs tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai teknologi pengolahan limbah yang berkontribusi pada pengurangan emisi CO₂.

 

 

Dari kelima artikel diatas, saya memiliki usulan baru atau novelty dengan judul penelitian:

“Microbial Renewable Energy Innovation: TOE Readiness, Institutional Governance, and Environmental Regulation Effects in Green Technology Diffusion”

Inovasi energi terbarukan (renewable energy) kini menjadi pilar utama dalam mencapai keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability). Salah satu pendekatan baru yang menjanjikan adalah teknologi berbasis mikroba (microbial renewable energy technologies), seperti microbial fuel cells (MFCs), biohydrogen production, dan anaerobic digestion. Teknologi ini mampu mengonversi limbah organik menjadi energi bersih dengan emisi karbon yang sangat rendah. Namun, tantangan utama bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari readiness organisasi dan kelembagaan untuk mengadopsinya. Dalam banyak negara berkembang, adopsi teknologi mikroba masih rendah karena:

  • Rendahnya kesiapan teknologi, organisasi, dan lingkungan (Technology–Organization–Environment readiness model / TOE).
  • Lemahnya tata kelola institusi (institutional governance) dalam mengatur, memberi insentif, dan membangun ekosistem inovasi hijau.
  • Regulasi lingkungan yang belum efektif mendorong difusi teknologi hijau secara luas.

Artikel ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis pengaruh TOE readiness (technology, organization, environment readiness) terhadap difusi inovasi teknologi energi mikroba pada lembaga riset, industri, dan sektor energi terbarukan.
  2. Menguji peran tata kelola kelembagaan (institutional governance) dan regulasi lingkungan (environmental regulation) sebagai faktor penentu dan/atau moderator dalam proses adopsi dan difusi teknologi mikroba.
  3. Mengembangkan model konseptual integratif yang menjelaskan bagaimana kesiapan internal organisasi dan dukungan eksternal (institusi dan regulasi) berinteraksi mendorong green technology diffusion.

Metode yang digunakan ialah kuantitatif eksplanatori dengan dukungan analisis structural equation modeling (SEM) atau partial least squares (PLS). Dengan novelty berupa gabungan model TOE Readiness (faktor internal) dengan Institutional Governance dan Environmental Regulation (faktor eksternal) dalam satu model difusi teknologi — belum banyak dilakukan di konteks microbial renewable energy dan memberikan model kebijakan yang bisa membantu pemerintah dan industri dalam mempercepat difusi teknologi mikroba untuk energi bersih dan pengelolaan limbah.

 

Comments

Popular posts from this blog

Review artikel topik 9&10